5 Pelajaran Penting terkait Keselamatan dari Tragedi Titanic

Ditulis oleh Mingkliw Setiawan, S.Pd pada 12/04/2018

15 April lalu menandakan peringatan 103 tahun sebuah kecelakaan maritime yang sangat besar yaitu tenggelamnya kapal Titanic. Tragedi ini merupakan tragedi keselamatan kerja dari abad ke-20 yang paling banyak dibicarakan oleh orang. Tenggelamnya kapal Titanic yang “tidak bisa tenggelam” menghasilkan 1500 nyawa penumpang dan kru kapal melayang. Tragedi tersebut mengguncang dunia, karena Titanic telah diberi gelar “Kapal Paling Aman yang pernah dibuat”

Sangat banyak pelajaran yang bisa diambil dari tenggelamnya kapal Titanic. Lebih dari 100 tahun setelah tragedi, inilah saat yang tepat untuk melihat dan merayakan perkembangan keselamatan kerja yang diambil dari pelajaran tenggelamnya Titanic. Pelajaran tersebut dilipatgandankan, dibagikan dan diimplementasikan untuk keperluan masa depan. Tragedi Titanic sangat layak diangkat sebagai titik balik dalam keselamatan dunia maritim

Berikut adalah 5 pelajaran dari Titanic yang memiliki dampak ke keselamatan dunia perkapalan di masa kini:

Standar dan peraturan yang kadaluarsa – Titanic hanya dilengkapi dengan perahu dan jaket penyelamatan dengan jumlah separuh dari jumlah penumpang maksimum. Pada saat itu, Badan Perdagangan tidak memiliki peraturan untuk kapal sebesar Titanic. Satu-satunya peraturan adalah Undang-Undang Perkapalan Barang Tahun 1894, yang mewajibkan jumlah perahu penyelamatan harus proporsional dengan berat kotor kapal. Peraturan mungkin saja mencukupi, namun peraturan tersebut hanya mengatur untuk kapal seberat 10.000 ton, di mana 16 perahu penyelamat diwajibkan ada, sementara Titanic beratnya 46.000 ton dan hanya membawa 20 perahu penyelamat. Secara legal, memang Titanic sudah memenuhinya namun legal yang dijadikan patokan terbukti kurang lengkap mengatur kapal dengan tonase lebih dari 10.000 ton

Kurangnya Pelatihan – 20 Perahu penyelamat yang ada sudah digunakan meskipun tidak dalam kapasitas yang penuh. Setidaknya ada 4 perahu penyelamat yang diisi hanya dengan kapasitas 50% bahkan kurang. Ada sebuah perahu penyelamat yang dapat membawa 40 orang hanya mengangkut 12 orang. Latihan simulasi menggunakan perahu penyelamat sebenarnya telah dijadwalkan pada hari yang sama ketika Titanic menabrak gunung es namun latihan tersebut dibatalkan oleh Kapten Edward J. Smith. Ada spekulasi menyebutkan bahwa pelatihan yang baik dapat mengoptimalkan seluruh tempat di perahu penyelamat dan dapat menyelamatkan nyawa lebih banyak.

Tidak cukup peralatan dan perlindungan – Kapal Titanic hanya memiliki jumlah peralatan keselamatan yang sedikit. Sejumlah opsir di anjungan kapal tidak memiliki teropong atau lampu sorot. Fakta itu bisa saja menyebabkan para opsir hanya memiliki waktu 37 detik untuk bereaksi sebelum menabrak Gunung es. Padahal setiap menit pastinya memiliki potensi untuk menyelamatkan ratusan nyawa lagi.

Rencana Dalam Gawat Darurat – Sebenarnya ketika kejadian itu, terdapat Kapal Californian yang berjarak 30 mil dari Titanic di mana kru kapal tersebut melihat percikan api dari Titanic namun tidak menghiraukan panggilan gawat darurat. Berdasarkan investigasi, ditemukan bahwa Kapal Californian dapat saja menyelamatkan nyawa 700 orang yang terapung di air selama 3 jam sebelum Kapal Carpathia datang untuk menyelamatkan nyawa korban yang masih selamat

Bertahun-tahun masyarakat berspekulasi tentang kenapa kapten dari Kapal Californian memutuskan untuk tidak merespon panggilan gawat darurat. Beberapa orang berkata bahwa kapten kapal itu tidak menyadari betapa seriusnya situasi yang ada sementara beberapa lain berkata bahwa terjadi miskomunukasi, sementara yang lain berkata bahwa itu murni ketidakhirauan. Yang jelas, pada saat itu, Kapten dari Kapal Californian masuk ke dalam kamar untuk tidur.

Untuk merespons hal ini, Rencana Tanggap Darurat Kapal diimplementasikan oleh Amerika Serikat dan Inggris. Rencana ini juga mencakup untuk tanggap darurat dari kapal di sekitar.

Pembentukan badan dan protocol – International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) yang pertama pada 12 November 1913 diadakan sebagai respons terhadap tragedy Titanic. Traktat bersama telah ditandatangani pada Januari 1914 dan menghasilkan pembentukan Patroli Es Internasional. Amerika serikat kemudian membentuk badan untuk mengawasi dan melaporkan Gunung Es di Samudera Atlantik bagian utara yang dapat menjadi bahaya bagi lalu lintas kapal transatlantik

Banyak pelajaran yang didapatkan dari hilangnya 1500 nyawa dalam Titanic. Dari peningkatan pelatihan, perlindungan personal yang sesuai dan standarisasi peraturan untuk prosedur tanggap darurat. Keselamatan maritime pun telah ditingkatkan sehingga banyak nyawa yang dapat diselamatkan.

lihat vidio di bawah ini tentang keselamatan kerja di tictanic

Subscribe to SMK Pelayaran Hang Tuah Kediri